Archive for February 12, 2009
Menanti Kehadiran Si Kecil
Saat tulisan ini dibuat, kakak saya tengah menanti kehadiran si kecil. Kemarin memang sempat berkomunikasi via telepon. Dia curhat banyak mengenai repotnya persiapan menanti kelahiran si jabang bayi ini. Apalagi masa kehamilan sudah lewat 9 bulan.
Biasanya seorang perempuan yang tengah hamil tua perasaan bahagianya akan bercampur dengan harap-harap cemas. Bahagia karena akan kedatangan manusia baru di rumah, tapi harap-harap cemas bahwa akankah si jabang bayi ini lahir dengan selamat dan sehat wal afiat.
Di sinilah kemudian saya pribadi menyaksikan adanya sebuah proses perubahan drastis pada diri seorang perempuan ketika mereka tengah mengandung.
Gak kebayang rasanya ketika dulu melihat karakter kakak yang gampang sekali marah dan tidak sabaran, sekarang justru mulai menunjukkan perubahan sikap. Sekarang kakak lebih menjaga perkataannya mungkin khawatir juga berpengaruh pada anak. Memang pendidikan seorang anak itu bukan dimulai saat play group, tapi sejak dia dalam kandungan. Itu sebabnya setiap perempuan yang mengandung, diharapkan dapat menjaga lisan dan perbuatannya, bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk diri dan anak yang akan dilahirkannya.
Bayangkan ketika ada seorang perempuan yang tengah mengandung, namun dia tidak menujukkan sikap kasih sayang dan kemuliaan seorang ibu. Misalnya, dari aspek fisik, tidak menjaga pola makan dan istirahat, malah yang lebih parah adalah jika merokok dalam kondisi hamil. Kalau ini jelas, secara fisik pun akan langsung berdampak pada sang bayi.
Ada lagi aspek rohani, yang sepintas tampak sepele, tapi sebenarnya ini merupakan titik awal memulai pendidikan yang baik pada si anak yaitu sejak jabang bayi. Apakah selama mengandung 9 bulan 10 hari lamanya seorang perempuan lalai untuk meningkatkan kualitas ibadahnya, senang menunda shalat, atau tidak pernah membaca Al-Qur’an, dan berinfaq. Yang lebih harus berhati-hati lagi adalah terkait dengan lisan. Lidah itu memang tidak bertulang, saking tidak bertulang, sudah berapa banyak korban berjatuhan di dunia ini akibat lidah yang tidak dijaga.
Menurut buku “The Magic of Water”, tubuh manusia itu sebagian besar tersusun atas air. Nah ajaibnya air adalah kristal-kristal penyusunnya itu bisa menerima respon sugesti. Sebagai contoh, pernah ada sebuah penelitian yang melihat kondisi kristal air saat air tersebut diberikan kata-kata positif dan juga kata-kata makian.
Air diletakan dalam dua gelas terpisah. Gelas pertama, dibacakanlah kata-kata positif. Setelah beberapa saat dibacakan, kristal penyusun senyawa air dilihat dengan menggunakan sebuah alat dan tampak bentuk kristalnya sangat cantik dan beraturan.
Air yang diletakan dalam gelas berikutnya, diberi kata-kata makian. Beberapa saat setelah diberi makian, kristal air tersebut dianalisis dengan alat tertentu dan hasilnya terlihat bahwa kristal air menjadi tidak beraturan dan keruh.
Wah, berarti kalau sebagian besar tubuh kita tersusun dari air, dan apabila kita senantiasa bersugesti negatif atau memaki diri sendiri, maka molekul tubuh kita bisa tidak beraturan. Nah, real-nya ditunjukkan dengan stress atau tingkat yang lebih lanjut depresi. Orang yang stress, akan mudah terkena penyakit.
Sekarang kalau kita lihat seorang ibu yang tidak bisa menjaga lisan dan bahkan kelakuannya saat mengandung. Bayangin, apa yang akan terjadi sama sang jabang bayi? Kalau si Ibu semasa mengandung senang memaki orang, merugikan orang lain, menyebar gosip, sikapnya pun tidak menyenangkan bagi orang banyak. Udah gitu ditambah dengan sumpah serapah dari orang-orang di sekitar yang merasa dirugikan dan tidak senang dengan tindakannya. Gimana coba nasib si jabang bayi saat lahir ke dunia. Padahal, di dalam janin, sang bayi mendapat pendidikan pertama kali di dunia.
Nah, saya melihat kondisi perubahan yang terjadi sama kakak saya. Mungkin inilah keberkahan dari mengandung seorang bayi yang Allah berikan. Selain tampak lebih cantik, dia juga tampak lebih tenang dan sabar, tidak mudah marah. Sulit dipercaya, karena dulu saya menganggap sifatnya yang emosional itu sudah mendarah-daging. Sulit diubah.
Kehadiran si jabang bayi sanggup membuatnya mengendalikan sikap dan emosinya. Semoga menjadi sebuah perubahan sikap positif ke depannya.
Nugraha Natakusumah
ILNA
Recent Comments