<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mentoring Indonesia</title>
	<atom:link href="http://mentoringblog.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mentoringblog.wordpress.com</link>
	<description>Mentoring Indonesia at Wordpress.com</description>
	<lastBuildDate>Sat, 03 Dec 2011 22:47:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mentoringblog.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mentoring Indonesia</title>
		<link>http://mentoringblog.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mentoringblog.wordpress.com/osd.xml" title="Mentoring Indonesia" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mentoringblog.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mentoring as a Process, Not a Product</title>
		<link>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/06/11/mentoring-as-a-process-not-a-product/</link>
		<comments>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/06/11/mentoring-as-a-process-not-a-product/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 10:25:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mentoringblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mentoringblog.wordpress.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[Apa definisi mentoring menurut kalian?Hmm.. pastinya akan ada berbagai versi mengenai definisi mentoring. Ada yang mendasari pada referensi ilmiah dan kajian psikologi, atau ada juga yang mendefinisikan secara empirik berdasarkan pengalaman menjadi mentor di lapangan. Apapun definisi mentoring, yang jelas dia tidak akan lepas dari unsur keteladanan. Itu sebabnya, bagi mentor, integritas menjadi sebuah kata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mentoringblog.wordpress.com&amp;blog=4756392&amp;post=225&amp;subd=mentoringblog&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa definisi mentoring menurut kalian?Hmm.. pastinya akan ada berbagai versi mengenai definisi mentoring. Ada yang mendasari pada referensi ilmiah dan kajian psikologi, atau ada juga yang mendefinisikan secara empirik berdasarkan pengalaman menjadi mentor di lapangan.</p>
<p>Apapun definisi mentoring, yang jelas dia tidak akan lepas dari unsur keteladanan. Itu sebabnya, bagi mentor, integritas menjadi sebuah kata kunci yang harus tertanam dalam karakter. Suka tidak suka, mau tidak mau begitulah adanya. Kenapa, karena mentoring itu adalah sebuah proses untuk membantu seseorang menemukan jati dirinya &#8211; coba dilihat lagi akar kata mentoring yang berasal dari cerita Yunani kuno antara Thelemacus dengan Mentor.</p>
<p>Banyak yang kemudian kurang proporsional dalam menempatkan mentoring sebagai sebuah produk, dan saya lihat ini banyak terjadi di lembaga-lembaga pengelola mentoring di Indonesia.</p>
<p>Mentoring bukanlah sebuah produk. Mentoring adalah sebuah proses dari rangkaian pembentukan karakter manusia. Dari mentoring akan dihasilkan berbagai hal yang terpenting adalah ketangguhan karakter. Itu sebabnya mentoring bagi mereka yang memiliki mindset mentoring as a product hanya akan berpikiran bagaimana mentoring dapat terselenggara, that&#8217;s all. So&#8230; ini yang menyebabkan penyelenggaraan mentoring di Indonesia masih banyak menghadapi kendala, kenapa karena start pembangunan minds mentor dan lembaga pengelola mentoring yang kurang tepat.</p>
<p>Kind Regard.</p>
<p>Nugraha</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mentoringblog.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mentoringblog.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mentoringblog.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mentoringblog.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mentoringblog.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mentoringblog.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mentoringblog.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mentoringblog.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mentoringblog.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mentoringblog.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mentoringblog.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mentoringblog.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mentoringblog.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mentoringblog.wordpress.com/225/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mentoringblog.wordpress.com&amp;blog=4756392&amp;post=225&amp;subd=mentoringblog&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/06/11/mentoring-as-a-process-not-a-product/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80561d6bbc92ce38f13c4bd23fd9e9b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mentoringblog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perlukah LSM Mentoring Berbadan Hukum?</title>
		<link>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/06/02/perlukah-lsm-mentoring-berbadan-hukum/</link>
		<comments>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/06/02/perlukah-lsm-mentoring-berbadan-hukum/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 09:24:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mentoringblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mentoringblog.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan yang didasari tentang permasalahan-permasalahan yang mendasar belakangan ini, dan sedang terjadi di dunia dakwah sekolah. Saat ini, banyak peluang yang terbuka khususnya untuk mendapatkan bantuan pendanaan baik dari pemerintah maupun lembaga internasional. Sebagaimana kita semua mengerti, untuk mengelola LSM mentoring, jelas dibutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit. Dan untuk mengupayakan tersedianya dana juga bukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mentoringblog.wordpress.com&amp;blog=4756392&amp;post=222&amp;subd=mentoringblog&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan yang didasari tentang permasalahan-permasalahan yang mendasar belakangan ini, dan sedang terjadi di dunia dakwah sekolah.</p>
<p>Saat ini, banyak peluang yang terbuka khususnya untuk mendapatkan bantuan pendanaan baik dari pemerintah maupun lembaga internasional. Sebagaimana kita semua mengerti, untuk mengelola LSM mentoring, jelas dibutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit. Dan untuk mengupayakan tersedianya dana juga bukan hal yang mudah.</p>
<p>Memang secara ideal, suatu LSM itu baiknya ada donatur tetap, agar kegiatan operasional bisa tetap berjalan. Namun, berbeda dengan LSM lain seperti LSM yang bergerak di bidang lingkungan hidup misalnya, untuk LSM yang bergerak menangani mentoring, peluang dana dari donatur tidaklah selebar LSM lingkungan. Kenapa? Lagi-lagi ini kembali kepada pemahaman orang/pihak yang akan menjadi donatur tetap. Tidak cukup banyak orang/institusi yang secara tepat memahami arti pentingnya mentoring untuk kasus di Indonesia.</p>
<p>Berbeda kalau kita bandingkan dengan mentoring di negara-negara maju seperti di Amerika Serikat ataupun di sejumlah negara di Eropa.</p>
<p>Berawal dari kondisi ini, kita pun menyadari betapa perlunya pengelolaan mentoring yang terlembaga. Apalagi jika lembaga pengelola tersebut memiliki status hukum yang jelas.</p>
<p>Sejak awal berdiri, ILNA tidak berlama-lama membiarkan lembaga ini tidak memiliki status hukum. Kami menyadari bahwa di masa depan dengan memiliki akta notaris, NPWP, dll akan sangat berguna bagi perkembangan lembaga ini.</p>
<p>Itu sebabnya, walaupun harus keluar biaya, kami bela-belain agar mengurus kelengkapan hukum ke notaris beserta pajak. Hasilnya, ILNA menjadi salah satu LSM yang memiliki akta hukum yang lengkap di Kota Bogor. Dengan kelengkapan akta hukum tersebut, kami akan dengan mudah mengakses peluang-peluang pendanaan baik dari pemerintah maupun lembaga swasta.</p>
<p>Bukan hanya itu, dengan adanya kelengkapan hukum akan menimbulkan kepercayaan di mata donatur, bahwa dana yang diserahkan dikelola oleh lembaga yang jelas dan bukan lembaga siluman.</p>
<p>Nah, mulai sekarang sebaiknya LSM mentoring yang belum berbadan hukum sebaiknya segera urus kelengkapan hukum di notaris. Jangan menunda-nunda. Banyak kesempatan untuk mendapatkan akses pendanaan baik di dalam maupun di luar negeri. Hanya lembaga yang berbadan hukum-lah yang berkesempatan untuk mengaksesnya.</p>
<p>Satu lagi, kalau sudah berbadan hukum, jangan lupa laporkan dan bayar pajak tepat waktu ya&#8230; Jangan ngemplang, nanti &#8220;Apa Kata Dunia?!&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mentoringblog.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mentoringblog.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mentoringblog.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mentoringblog.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mentoringblog.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mentoringblog.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mentoringblog.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mentoringblog.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mentoringblog.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mentoringblog.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mentoringblog.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mentoringblog.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mentoringblog.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mentoringblog.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mentoringblog.wordpress.com&amp;blog=4756392&amp;post=222&amp;subd=mentoringblog&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/06/02/perlukah-lsm-mentoring-berbadan-hukum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80561d6bbc92ce38f13c4bd23fd9e9b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mentoringblog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kajian Ekonomi Tim ILNA</title>
		<link>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/05/30/kajian-ekonomi-tim-ilna/</link>
		<comments>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/05/30/kajian-ekonomi-tim-ilna/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 05:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mentoringblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mentoringblog.wordpress.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[Transformasi Sektor Informal, Mengukuhkan Peran Masyarakat dalam Perekonomian Bangsa Tidak diragukan lagi bahwa sektor usaha informal memiliki magnitude yang besar. Secara empiris di negara-negara berkembang sekitar 30-70 persen populasi tenaga kerja yang berada di perkotaan bekerja di sektor ini. Bahkan dalam kondisi krisis sekalipun, hampir semua jenis usaha di sektor ini terus berkembang. Di masa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mentoringblog.wordpress.com&amp;blog=4756392&amp;post=216&amp;subd=mentoringblog&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Transformasi Sektor Informal, Mengukuhkan Peran Masyarakat dalam Perekonomian Bangsa</strong></p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa sektor usaha informal memiliki <em>magnitude</em> yang besar. Secara empiris di negara-negara berkembang sekitar 30-70 persen populasi tenaga kerja yang berada di perkotaan bekerja di sektor ini.</p>
<p>Bahkan dalam kondisi krisis sekalipun, hampir semua jenis usaha di sektor ini terus berkembang. Di masa depan, sektor ini akan berperan besar dalam perekonomian Indonesia dengan syarat harus terorganisasi (<em>organized</em>), teratur (<em>regulated</em>), dan terdaftar (<em>registered</em>)</p>
<p>Sudah menjadi kenyataan di negara-negara post komunis, Timur Tengah, Asia Tenggara, bahwa aktivitas perekonomian masyarakat digerakkan melalui sektor informal. Dengan berbagai potensi yang kita miliki, seharusnya Indonesia sudah mengampil peran lebih dalam untuk memajukan sektor ini.</p>
<p>Indonesia harus tampil <em>leading</em> di antara negara-negara lain yang juga memiliki <em>concern</em> sama  terhadap sektor usaha informal karena kita memiliki berbagai kelebihan. Kebijakan pemerintah pusat pun telah dan sangat mendukung kepada kemajuan sektor ini.</p>
<p>Sebut saja kebijakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang digagas oleh pemerintahan SBY, kebijakan yang bertujuan untuk memudahkan masyarakat memperoleh akses permodalan. <em>Content</em> program KUR sudah sangat baik, hanya saja dalam pelaksanaannya belum terintegrasi di tingkat pemerintah daerah.</p>
<p>Kita patut bersyukur, dengan banyaknya pedagang kaki lima, warung makan, pedagang sayur keliling atau orang-orang yang menawarkan jasa pemeliharaan taman dengan cara berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya. Ini menjadi bukti kongkrit sektor ini menjadi tulang punggung perekonomian sebagian besar masyarakat.</p>
<p>Kondisi tersebut, semakin diperkuat dengan budaya bangsa-bangsa di Asia sangat erat dengan kultur berdagang. Fenomenan kesuksesan ini bisa dilihat di Taiwan ataupun Korea Selatan.</p>
<p>Misalnya saja di pinggiran kota Seoul, telah dicanangkan sebagai <em>information technology city</em>. Pemerintah Korea memberikan dukungan penuh terhadap aktivitas perekonomian yang berhubungan erat dengan teknologi informasi di daerah tersebut.</p>
<p>Memang untuk kasus seperti di Korea Selatan tadi, mereka sudah memiliki sistem administrasi kependudukan yang rapi sehingga setiap penduduk dan aset-aset yang dimilikinya bisa teridentifikasi oleh negara. Aset-aset konvensional mereka pun telah tersertifikasi dengan baik.</p>
<p>Jika kondisi tersebut bisa terealisasi di Indonesia, maka sektor usaha informal bisa bertransformasi menjadi sektor usaha formal. Dengan kata lain sektor ini akan <em>equivalent</em> dalam kuadran sistem perekonomian nasional.</p>
<p>Selain itu, diperlukan pula keberadaan lembaga keuangan non-bank semacam lembaga ekonomi rakyat, yang mampu menjembatani kebutuhan sektor informal dengan akses permodalan, di mana peraturannya dibuat agar tidak seketat perbankan.</p>
<p>Lembaga ini nantinya akan bertugas mengelola sumber pendanaan dalam jumlah besar di Indonesia yang belum terkelola untuk sektor riil, seperti memanfaatkan aliran dana di pasar modal sebagai sumber permodalan bagi sektor usaha informal melalui ekuitas berbasis aset usaha.</p>
<p>Dalam proses penyaluran modal, lembaga ini bisa menggunakan <em>channeling</em> yang dimiliki pemerintah, baik melalui struktur pemerintahan maupun menggunakan jaringan kantor-kantor cabang BUMN seperti PT. Pos Indonesia tersebar di seluruh propinsi di Indonesia serta memiliki daya jangkau hingga ke pelosok.</p>
<p>Dengan pengintegrasian ekonomi mikro dan makro ini, akan memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi karena mencakup berbagai hal apalagi hal ini menjadi titik temu antara sektor riil dengan finansial yang selama ini sering bertolak belakang.</p>
<p>Efek yang ditimbulkan akan sangat besar untuk perekonomian bahkan bisa melebihi lembaga-lembaga sejenis di negara lain yang <em>established</em> seperti Grameen Bank di Bangladesh. Sekian.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mentoringblog.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mentoringblog.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mentoringblog.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mentoringblog.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mentoringblog.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mentoringblog.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mentoringblog.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mentoringblog.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mentoringblog.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mentoringblog.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mentoringblog.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mentoringblog.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mentoringblog.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mentoringblog.wordpress.com/216/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mentoringblog.wordpress.com&amp;blog=4756392&amp;post=216&amp;subd=mentoringblog&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/05/30/kajian-ekonomi-tim-ilna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80561d6bbc92ce38f13c4bd23fd9e9b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mentoringblog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>UN yang Bikin Senewen, UAS yang Bikin Was-Was</title>
		<link>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/04/27/un-yang-bikin-senewen-uas-yang-bikin-was-was/</link>
		<comments>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/04/27/un-yang-bikin-senewen-uas-yang-bikin-was-was/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 07:53:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mentoringblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mentoringblog.wordpress.com/2009/04/27/un-yang-bikin-senewen-uas-yang-bikin-was-was/</guid>
		<description><![CDATA[Baru saja UN untuk tingkat SMA/SMK dan yang sederajat dilangsungkan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, UN akan menyisakan berbagai kondisi emosional siswa seperti bahagia, lega, tawa, sedih, keluh-kesah, ataupun tangisan karena merasa tidak berhasil mengerjakan soal-soal yang diujikan. Belum selesai samapi UN, namun masih ada lagi Ujian Akhir Sekolah atau UAS sebagai bentuk test bagi mata pelajaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mentoringblog.wordpress.com&amp;blog=4756392&amp;post=215&amp;subd=mentoringblog&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baru saja UN untuk tingkat SMA/SMK dan yang sederajat dilangsungkan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, UN akan menyisakan berbagai kondisi emosional siswa seperti bahagia, lega, tawa, sedih, keluh-kesah, ataupun tangisan karena merasa tidak berhasil mengerjakan soal-soal yang diujikan.</p>
<p>Belum selesai samapi UN, namun masih ada lagi Ujian Akhir Sekolah atau UAS sebagai bentuk test bagi mata pelajaran yang tidak diujikan dalam UN. </p>
<p>Stress&#8230; kata yang selalu menghiasi setiap tahun pelaksanaan ujian akhir ini. Dalam berbagai pemberitaan di media massa maupun realita yang kita saksikan langsung dengan mata kepala sendiri, memang terbukti bahwa siswa banyak yang mengalami stress menjelang dilaksanakannya UN dan disusul dengan UAS, walaupun tidak sebesar UN. </p>
<p>He..he lucu juga memang, kenapa? Soalnya ada sebuah pemahaman yang mis yang saat ini terjadi di kalangan pelajar di Indonesia. Setahu saya, sangatlah wajar dalam ujian itu ada yang lulus dan ada juga yang tidak lulus. Memang sih.. ada banyak komentar mengenai UN. Ada yang setuju, tapi tidak sedikit juga yang kontra, bahkan menyalahkan pemerintah yang dianggap gagal dalam meningkatkan mutu pendidikan di tanah air. </p>
<p>Sebenarnya perdebatan mengenai UN tidak perlu diperpanjang manakala hakikat proses belajar bisa dipahami oleh semua pihak. Saya ambil sebuah ilustrasi begini, Tahu kan Rafael Nadal, petenis yang saat ini menduduki peringkat satu dunia? Dia Kemarin baru saja berhasil memenangkan kejuaraan Barcelona Open untuk kelima kalinya. Perlombaan yang berlangsung beberapa jam saja itu, tentunya harus dipersiapkan oleh Nadal selama berbulan-bulan melalui proses berlatih yang ketat. Bahkan untuk terus mempertahakan supremasi gelar juara Barcelona Open, pastinya Nadal harus terus menjaga performa bermainnya dengan terus berlatih bertahun-tahun. Belum lagi kejuaraan lainnya yang dilaksanakan secara paralel dalam setiap tahunnya. Namun ketekunan berlatih dan senantiasa menguji kemampuan diri melalui berbagai kejuaraan internasional, membuatnya menjadi petenis yang handal dan profesional.</p>
<p>Jadi, bisa bayangin kan? Latihan dalam jangka waktu yang panjang, untuk menghadapi kejuaraan yang berlangsung beberapa hari atau minggu saja dengan lama waktu per tandingannya bisa berlangsung beberapa jam saja. Pendeknya jangka waktu pelaksanaan kejuaraan tenis harus diimbangi dengan latihan bertahun-tahun. Tapi apakah pernah ada petenis yang menyalahkan si penyelenggara kejuaraan dengan alasan latihan bertahun-tahun harus ditentukan dengan kejuaraan yang berlangsung beberapa hari saja? </p>
<p>Itulah hidup. Proses belajar dan berlatih memerlukan waktu yang cukup lama yang membuat kita terbiasa dan terlatih. UN yang berlangsung beberapa hari ibarat kejuaraan tenis internasional yang harus diikuti Nadal jika ia ingin membuktikan keahliannya bermain tenis dan mendapatkan peringkat dunia. Jadi, sebenarnya pemahaman inilah yang terlihat mis atau belum optimal disampaikan kepada pelajar. Wajar saja mereka menganggap UN menjadi momok yang menakutkan, padahal itu adalah bentuk ujian untuk mengukur seberapa jauh performa belajar di sekolah. Sama seperti atlet yang ikut kejuaraan, dalam UN pastinya ada yang lulus dan ada juga yang tidak lulus. Yang lulus pun akan dilihat, apakah dia mendapat nilai terbesar atau tidak? Jika iya, maka dia berhak mendapat hadiah. Yang paling utama adalah kemudahan untuk menentukan kelanjutan studinya atau mendapatkan beasiswa. Sama kan dengan Rafael Nadal yang menang di Barcelona Open? Dapat trophy dan hadiah uang.</p>
<p>Seyogyanya bagi pihak yang masih menyatakan ketidaksetujuannya terhadap UN tidak No Action Talks Only (NATO). Menyalahkan pemerintah? Solutifkah? Mengulang pertanyaan sebelumnya, apakah seorang Rafael Nadal akan menyalahkan penyelenggara kejuaraan? Mengikuti kejuaraan merupakan sebuah jalan yang harus dilalui oleh petenis profesional. Mengikuti UN atau dulu namanya EBTANAS, juga merupakan sebuah jalan yang harus ditempuh oleh siswa yang bersekolah dengan sistem pendidikan di negara ini. Memang banyak hal dalam bidang pendidikan yang harus dibenahi oleh pemerintah. Namun, sebagai bagian dari warga negara, tentunya kita tidak hendak menjadi bagian dari masalah dengan hanya mengkritik tanpa berbuat membantu pemerintah bukan?!</p>
<p>Bagi para pelajar, tekunlah belajar. Jangan-lah menyerah. UN adalah kejuaraan yang akan kalian hadapi dan itu sebuah keniscayaan bahwa untuk akhir dari proses belajar di manapun adalah adanya ujian. So keep on fighting. Dan kalau sampai tidak lulus UN, gak perlu khawatir. Masih ada kesempatan lain. Toh UN bukanlah penentu cerah atau tidaknya masa depan kita bukan? </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mentoringblog.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mentoringblog.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mentoringblog.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mentoringblog.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mentoringblog.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mentoringblog.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mentoringblog.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mentoringblog.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mentoringblog.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mentoringblog.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mentoringblog.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mentoringblog.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mentoringblog.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mentoringblog.wordpress.com/215/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mentoringblog.wordpress.com&amp;blog=4756392&amp;post=215&amp;subd=mentoringblog&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/04/27/un-yang-bikin-senewen-uas-yang-bikin-was-was/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80561d6bbc92ce38f13c4bd23fd9e9b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mentoringblog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Child Stress vs Caleg Stress</title>
		<link>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/03/23/child-stress-vs-caleg-stress/</link>
		<comments>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/03/23/child-stress-vs-caleg-stress/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 09:11:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mentoringblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mentoringblog.wordpress.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Pernah tahu atau mengalami child stress? Khususnya, buat anak-anak sekolah sekarang, yang beban kurikulum pelajarannya semakin berat. Hal itu membuka banyak peluang terjadinya child stress. Tahu bukti beban kurikulum yang semakin berat? Indikasinya, pertama bisa terlihat dari semakin meningkatnya kebutuhan bimbingan belajar alias bimbel. Inilah yang membuat lembaga bimbel tetap eksis. Artinya, semakin banyak pelajar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mentoringblog.wordpress.com&amp;blog=4756392&amp;post=201&amp;subd=mentoringblog&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--> Pernah tahu atau mengalami <em>child stress</em>? Khususnya, buat anak-anak sekolah sekarang, yang beban kurikulum pelajarannya semakin berat. Hal itu membuka banyak peluang terjadinya <em>child stress</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;">Tahu bukti beban kurikulum yang semakin berat? Indikasinya, <em>pertama</em> bisa terlihat dari semakin meningkatnya kebutuhan bimbingan belajar alias bimbel. Inilah yang membuat lembaga bimbel tetap eksis. Artinya, semakin banyak pelajar yang tidak pede dengan apa yang sudah mereka dapatkan di sekolah. <em>Kedua,</em> sistem kelulusan dalam ujian nasional (UN). Setiap tahunnya, pemerintah akan menaikkan rata-rata nilai kelulusan ujian nasional secara bertahap, hingga bisa mencapai angka 6,0. Ini juga mendatangkan banyak ketakutan bagi anak-anak sekolah. Pada akhirnya, faktor nilai menjadi target belajar, bukan menjadi sebuah ukuran pemahaman.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;">Lalu, selain beban pelajaran di sekolah, banyak hal yang menyebabkan seorang anak bisa mengalami <em>stress</em>. Misalkan saja, dia mengalami konflik dengan teman-temannya yang berujung pada memburuknya hubungan satu sama lain. Hal itu juga seringkali dialami oleh banyak anak.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;">Kira-kira apa ya, yang akan terjadi pada anak yang sedang mengalami <em>stress</em>. Ada banyak hal. <em>Pertama,</em> bisa saja kita mendapati anak mengurung diri di kamar dan enggan untuk keluar dalam jangka waktu yang tidak sewajarnya. <em>Kedua,</em> bisa saja tiba-tiba si anak berubah menjadi pendiam. <em>Ketiga,</em> si anak menjadi orang yang mudah putus asa (<em>hopeless</em>) dimana selalu merespon segala sesuatu dengan keluhan, disusul dengan respon fisik dan psikis berupa ketidak-tenangan, berkeringat dingin dan tangan gemetaran.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;">Bagaimana dengan calon legislator (caleg) yang mengalami <em>stress</em> juga? <em>Stress</em> pada caleg yang akan bersiap menghadapi Pemilu, bisa jadi disebabkan keterbatasan sumber dana. Sementara, kebutuhan belanja politiknya sangat besar, sehingga menimbulkan ketakutan <span> </span>aktivitas kampanyenya akan terhambat jika tidak ada dana yang memadai. Atau, bisa jadi ketika hasil survey menunjukkan tingkat elektabilitasnya tidak besar, padahal si caleg sudah mengeluarkan banyak dana untuk mengampanyekan dirinya kepada publik. Ini juga berpotensi besar mendatangkan <em>stress</em> pada dirinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Ada juga kejadian di mana si caleg dikerjai oleh orang lain seperti yang banyak terjadi belakangan ini. Banyak caleg yang telah mengalokasikan banyak dana untuk mendapatkan suara sebanyak-banyaknya di suatu daerah tertentu. Nah, untuk mendukung kelancaran niatnya, si caleg perlu membekali tim kampanyenya dengan biaya operasional. Seringkali faktor ini yang menimbulkan masalah. Siapa yang bisa menjamin tim kampanye si caleg bersangkutan akan bekerja optimal sesuai dengan budget yang dianggarkan? Kita tahu, biasanya tetap saja ada kemungkinan tim kampanye “bermain-main” dengan anggaran dana si caleg atau katakanlah, melakukan penggelapan dana. Hal ini tentu saja akan berdampak pada ketidak-optimalan perolehan suara di lapangan yang membuat si caleg bisa kalah dalam Pemilu. Kalau tidak bisa meraih suara optimal dalam Pemilu, apa mau dikata kalau dia kalah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;">Lalu, adakah hubungan antara <em>child</em> <em>stress</em> dengan stress caleg? Bagaimana kalau kita ilustrasikan seperti ini : Ada seorang caleg di suatu daerah. Setelah mengetahui hasil survey dari sebuah lembaga survey mengenai tingkat elektabilitas dirinya, mendadak ia berubah sikap jadi murung dengan mimik wajah yang ditekuk. Sikapnya pun berubah menjadi seperti orang yang panik. Bahkan kabarnya beberapa hari ia juga tidak berinteraksi dengan keluarga di rumah. Pulang ke rumah hanya untuk mandi, kemudian kembali pergi berkeliling dengan mobilnya. Dia agaknya tak bisa menerima hasil survey yang menurutnya sangat memojokkan dirinya. Seharian ia pun mengeluh saja, ditambah dengan aksi wajah murung alias pundung. Wah… repot juga nih. Yang kasihan adalah anak-istrinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span> </span>Contoh lainnya, ada caleg yang wajahnya terlihat suntuk seperti ada beban yang menimpa kepalanya. Sebenarnya, tadinya dia tidak mau jadi caleg karena harus mengelola perusahaannya yang baru beberapa tahun berdiri dan belum stabil. Tapi, karena dia adalah seorang kader partai yang loyal, baginya menjalani proses kampanye sebagai caleg merupakan amanah dari partai yang harus dijakankan. Alhasil, dia harus pontang-panting mengurusi kampanye dan perusahaan, sekaligus keduanya menuntut perhatian utamanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span> </span>Uniknya, jika ada rekan-rekan dari partai yang menuntut peran dirinya, bahkan sampai melakukan penekanan &#8211;baik langsung atau melalui telepon&#8211; yang terjadi justru malah berujung pada keributan. Akibatnya, dia kesal hingga emosinua naik dengan nada pembicaraan tinggi. Sebaliknya, yang diajak bicara juga kesal karena merasa dimarahi. <span> </span><em>He..he..he,</em>jadi seperti anak kecil yang dipaksa melakukan sesuatu tapi dia tidak mau. Hal itu berakibat, si anak jadi marah dan uring-uringan. Siapapun yang bertemu dirinya akan melihat wajah yang kusut, ditambah penampilan yang lesu, bersin-bersin dan kelelahan yang amat sangat. Tidak segar. Malah ada orang yang mengerti supranatural mengatakan, “<em>Waduh.. ini kalau dilihat warna auranya bukan kuning… alias banyak problem</em>”. Atau, barangkali ada juga yang mengalami nasib sama seperti calon Bupati Ponorogo yang kalah dalam Pilkada tahun lalu. Tiba-tiba mendadak depresi dan menaiki sebuah menara untuk meloncat, hanya menggunakan pakaian dalam. <em>Wah..</em> kalau ini lebih gawat dari pada anak yang menderita <em>stress</em>. Tapi untungnya belum ada beritanya. Hanya saja, jangan sampai deh ada kejadian seperti itu lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span> </span>Dengan demikian, <em>stress</em> ternyata bisa membuat kelakuan para caleg menyerupai anak-anak. Yang tadinya tampak dewasa dan bijak, bisa jadi dia mendadak berubah seperti anak kecil yang “pundung”.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span> </span><em>He..he..he..</em> ini masih masa kampanye loh..</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;">Bagaimana ketika proses penghitungan suara berlangsung, terutama saat diketahui caleg bersangkutan tidak dapat kursi? Wuih.. sudah berapa juta rupiah dikeluarkan untuk membuat atribut, mengerahkan massa, menyumbang fasilitas warga, dan lain lainya, hingga yang remeh-temeh. Silahkan jawab sendiri……</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mentoringblog.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mentoringblog.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mentoringblog.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mentoringblog.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mentoringblog.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mentoringblog.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mentoringblog.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mentoringblog.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mentoringblog.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mentoringblog.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mentoringblog.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mentoringblog.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mentoringblog.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mentoringblog.wordpress.com/201/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mentoringblog.wordpress.com&amp;blog=4756392&amp;post=201&amp;subd=mentoringblog&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/03/23/child-stress-vs-caleg-stress/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80561d6bbc92ce38f13c4bd23fd9e9b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mentoringblog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menanti Kehadiran Si Kecil</title>
		<link>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/02/12/menanti-kehadiran-si-kecil/</link>
		<comments>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/02/12/menanti-kehadiran-si-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 10:16:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mentoringblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mentoringblog.wordpress.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Saat tulisan ini dibuat, kakak saya tengah menanti kehadiran si kecil. Kemarin memang sempat berkomunikasi via telepon. Dia curhat banyak mengenai repotnya persiapan menanti kelahiran si jabang bayi ini. Apalagi masa kehamilan sudah lewat 9 bulan. Biasanya seorang perempuan yang tengah hamil tua perasaan bahagianya akan bercampur dengan harap-harap cemas. Bahagia karena akan kedatangan manusia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mentoringblog.wordpress.com&amp;blog=4756392&amp;post=194&amp;subd=mentoringblog&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat tulisan ini dibuat, kakak saya tengah menanti kehadiran si kecil. Kemarin memang sempat berkomunikasi via telepon. Dia curhat banyak mengenai repotnya persiapan menanti kelahiran si jabang bayi ini. Apalagi masa kehamilan sudah lewat 9 bulan.</p>
<p>Biasanya seorang perempuan yang tengah hamil tua perasaan bahagianya akan bercampur dengan harap-harap cemas. Bahagia karena akan kedatangan manusia baru di rumah, tapi harap-harap cemas bahwa akankah si jabang bayi ini lahir dengan selamat dan sehat wal afiat.</p>
<p>Di sinilah kemudian saya pribadi menyaksikan adanya sebuah proses perubahan drastis pada diri seorang perempuan ketika mereka tengah mengandung.</p>
<p>Gak kebayang rasanya ketika dulu melihat karakter kakak yang gampang sekali marah dan tidak sabaran, sekarang justru mulai menunjukkan perubahan sikap. Sekarang kakak lebih menjaga perkataannya mungkin khawatir juga berpengaruh pada anak. Memang pendidikan seorang anak itu bukan dimulai saat <em>play group</em>, tapi sejak dia dalam kandungan. Itu sebabnya setiap perempuan yang mengandung, diharapkan dapat menjaga lisan dan perbuatannya, bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk diri dan anak yang akan dilahirkannya.</p>
<p>Bayangkan ketika ada seorang perempuan yang tengah mengandung, namun dia tidak menujukkan sikap kasih sayang dan kemuliaan seorang ibu. Misalnya, dari aspek fisik, tidak menjaga pola makan dan istirahat, malah yang lebih parah adalah jika merokok dalam kondisi hamil. Kalau ini jelas, secara fisik pun akan langsung berdampak pada sang bayi.</p>
<p>Ada lagi aspek rohani, yang sepintas tampak sepele, tapi sebenarnya ini merupakan titik awal memulai pendidikan yang baik pada si anak yaitu sejak jabang bayi. Apakah selama mengandung 9 bulan 10 hari lamanya seorang perempuan lalai untuk meningkatkan kualitas ibadahnya, senang menunda shalat, atau tidak pernah membaca Al-Qur&#8217;an, dan berinfaq. Yang lebih harus berhati-hati lagi adalah terkait dengan lisan. Lidah itu memang tidak bertulang, saking tidak bertulang, sudah berapa banyak korban berjatuhan di dunia ini akibat lidah yang tidak dijaga.</p>
<p>Menurut buku <strong>&#8220;The Magic of Water&#8221;</strong>, tubuh manusia itu sebagian besar tersusun atas air. Nah ajaibnya air adalah kristal-kristal penyusunnya itu bisa menerima respon sugesti. Sebagai contoh, pernah ada sebuah penelitian yang melihat kondisi kristal air saat air tersebut diberikan kata-kata positif dan juga kata-kata makian.</p>
<p>Air diletakan dalam dua gelas terpisah. Gelas pertama, dibacakanlah kata-kata positif. Setelah beberapa saat dibacakan, kristal penyusun senyawa air dilihat dengan menggunakan sebuah alat dan tampak bentuk kristalnya sangat cantik dan beraturan.</p>
<p>Air yang diletakan dalam gelas berikutnya, diberi kata-kata makian. Beberapa saat setelah diberi makian, kristal air tersebut dianalisis dengan alat tertentu dan hasilnya terlihat bahwa kristal air menjadi tidak beraturan dan keruh.</p>
<p>Wah, berarti kalau sebagian besar tubuh kita tersusun dari air, dan apabila kita senantiasa bersugesti negatif atau memaki diri sendiri, maka molekul tubuh kita bisa tidak beraturan. Nah, real-nya ditunjukkan dengan stress atau tingkat yang lebih lanjut depresi. Orang yang stress, akan mudah terkena penyakit.</p>
<p>Sekarang kalau kita lihat seorang ibu yang tidak bisa menjaga lisan dan bahkan kelakuannya saat mengandung. Bayangin, apa yang akan terjadi sama sang jabang bayi? Kalau si Ibu semasa mengandung senang memaki orang, merugikan orang lain, menyebar gosip, sikapnya pun tidak menyenangkan bagi orang banyak. Udah gitu ditambah dengan sumpah serapah dari orang-orang di sekitar yang merasa dirugikan dan tidak senang dengan tindakannya. Gimana coba nasib si jabang bayi saat lahir ke dunia. Padahal, di dalam janin, sang bayi mendapat pendidikan pertama kali di dunia.</p>
<p>Nah, saya melihat kondisi perubahan yang terjadi sama kakak saya. Mungkin inilah keberkahan dari mengandung seorang bayi yang Allah berikan. Selain tampak lebih cantik, dia juga tampak lebih tenang dan sabar, tidak mudah marah. Sulit dipercaya, karena dulu saya menganggap sifatnya yang emosional itu sudah mendarah-daging. Sulit diubah.</p>
<p>Kehadiran si jabang bayi sanggup membuatnya mengendalikan sikap dan emosinya. Semoga menjadi sebuah perubahan sikap positif ke depannya.</p>
<p>Nugraha Natakusumah<br />
ILNA</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mentoringblog.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mentoringblog.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mentoringblog.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mentoringblog.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mentoringblog.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mentoringblog.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mentoringblog.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mentoringblog.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mentoringblog.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mentoringblog.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mentoringblog.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mentoringblog.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mentoringblog.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mentoringblog.wordpress.com/194/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mentoringblog.wordpress.com&amp;blog=4756392&amp;post=194&amp;subd=mentoringblog&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/02/12/menanti-kehadiran-si-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80561d6bbc92ce38f13c4bd23fd9e9b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mentoringblog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belum Optimal Mengedukasi Pemilih Pemula</title>
		<link>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/02/10/belum-optimal-mengedukasi-pemilih-pemula/</link>
		<comments>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/02/10/belum-optimal-mengedukasi-pemilih-pemula/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 02:55:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mentoringblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mentoringblog.wordpress.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Masih diragukan, apakah partai politik (parpol) peserta Pemilu 2009 lebih mengutamakan suara para pemilih pemula (first time voter) untuk direkrut secara ideologis atau statistik. Karena, memang perolehan suara terbanyak akan memenangkan parpol tersebut. Menurut hasil survey terhadap segmen pemilih pemula yang dilakukan oleh sebuah media nasional beberpa waktu yang lalu, dari 1.600 orang remaja berusia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mentoringblog.wordpress.com&amp;blog=4756392&amp;post=185&amp;subd=mentoringblog&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih diragukan, apakah partai politik (parpol) peserta Pemilu 2009 lebih mengutamakan suara para pemilih pemula (<em>first time voter</em>) untuk direkrut secara ideologis atau statistik. Karena, memang perolehan suara terbanyak akan memenangkan parpol tersebut.</p>
<p>Menurut hasil survey terhadap segmen pemilih pemula yang dilakukan oleh sebuah media nasional beberpa waktu yang lalu, dari 1.600 orang remaja berusia 17 s.d. 21 tahun yang disurvei, sekitar 84.4 % responden yang belum pernah mengikuti Pemilu bersedia untuk menggunakan hak suaranya. Tentunya hal ini menggambarkan semangat hidup bderdemokrasi di kalangan generasi muda kita.</p>
<p>Namun harus disadari, imbas dari loyalitas generasi muda pasca Pemilu 2009. Jika mereka hanya diedukasi secara pragmatis atau dalam gaya lama, yang segala sesuatunya dianggap bisa dibeli, maka ditanggung kondisi dunia politik di masa depan tidak akan jauh berbeda dengan saat ini.</p>
<p>Walau bagaimanapun, nantinya kita akan tergantung  kepada generasi muda. Kalau saat ini saja mereka masih buta politik dan hanya sekadar dimanfaatkan suaranya atau direkrut hanya untuk menambah jumlah suara (secara statistik), kondisi ini akan membahayakan pembelajaran politik bagi generasi muda.</p>
<p>Kita tahu, potensi generasi muda terlebih mereka yang berada pada rentang usia 17 &#8211; 25 tahun sangatlah besar. Jumlah mereka menurut statistik saat ini mencapai 85 juta jiwa. Sementara, jumlah pemilih pada Pemilu 2009, diperkirakan lebih daro 150 juta orang. Tidak dapat disangkal tentunya mereka akan menjadi incaran parpol.</p>
<p>Namun, untuk masuk ke segmen pemilih pemula, bukannya tanpa hambatan. Karena usia mudanya itulah, mereka masih sangat identik dengan imajinasi, kesenangan, atau keceriaan. Mereka relatif tidak terlalu menghiraukan informasi perkembangan dunia politik dan demokrasi. Contoh kecil saja, untuk mengurus keterdaftaran mereka dalam Pemilu saja, masih banyak yang tidak peduli apakah nama mereka tercantum atau tidak dalam Daftar Pemilih Sementara (DPS) dan juga Daftar Pemilih Tetap (DPT).</p>
<p>Ini bisa dikatakan bahwa mereka belum memiliki kesadaran berpolitik yang baik. Apalagi ditambah dengan berbagai pengaruh seperti dari orang tua yang kebanyakan cenderung membatasi anak-anaknya terhadap akses informasi dunia politik. Disebutlah bahwa politik itu kotor, sarat manipulasi, sarat korupsi, dan berbagai pemahaman lainnya.</p>
<p>Wajar saja, toh itu yang didapati dari media massa, walaupun tidak selalu seperti itu.</p>
<p>Ini menjadi sebuah pekerjaan rumah yang besar bagi seluruh parpol. Bagaimana mereka juga bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan politik bagi generasi muda. Yang paling utama adalah bagaimana mereka mampu menunjukkan keteladanan positif dalam berpolitik.</p>
<p>Parpol perlu melakukan revitalisasi merek-nya agar citra parpol bisa berubah, bukan lagi sebagai sarana penyimpangan dan korupsi, tetapi sebagai wadah politik yang mengayomi kepentingan masyarakat.</p>
<p>Jangan remehkan pemilih pemula. Mereka adalah calon pemimpin bangsa di masa depan. Bahkan mereka nantinya yang akan menggantikan posisi pimpinan parpol dari generasi tua saat ini di masa depan.</p>
<p>Tim ILNA</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mentoringblog.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mentoringblog.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mentoringblog.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mentoringblog.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mentoringblog.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mentoringblog.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mentoringblog.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mentoringblog.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mentoringblog.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mentoringblog.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mentoringblog.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mentoringblog.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mentoringblog.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mentoringblog.wordpress.com/185/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mentoringblog.wordpress.com&amp;blog=4756392&amp;post=185&amp;subd=mentoringblog&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/02/10/belum-optimal-mengedukasi-pemilih-pemula/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80561d6bbc92ce38f13c4bd23fd9e9b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mentoringblog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Kursi KRL dan Kursi Kekuasaan</title>
		<link>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/02/06/antara-kursi-krl-dan-kursi-kekuasaan/</link>
		<comments>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/02/06/antara-kursi-krl-dan-kursi-kekuasaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2009 09:15:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mentoringblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mentoringblog.wordpress.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang sering naik KRL ekonomi jurusan Bogor-Jakarta? Pastinya udah sering ngerasain yang namanya desek-desekan. Jam berapapun KRL ekonomi berangkat, kalau nggak di Stasiun Bogor, KRL akan penuh di stasiun Cilebut, Bojong Gede, Citayam, dan Depok. Nah setelah lewat stasiun-stasiun tersebut, gak terlalu banyak penumpang yang lewat. Soal desek-desekan, udah jadi makanan sehari-hari buat penumpaang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mentoringblog.wordpress.com&amp;blog=4756392&amp;post=181&amp;subd=mentoringblog&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa yang sering naik KRL ekonomi jurusan Bogor-Jakarta? Pastinya udah sering ngerasain yang namanya desek-desekan. Jam berapapun KRL ekonomi berangkat, kalau nggak di Stasiun Bogor, KRL akan penuh di stasiun Cilebut, Bojong Gede, Citayam, dan Depok. Nah setelah lewat stasiun-stasiun tersebut, gak terlalu banyak penumpang yang lewat.</p>
<p>Soal desek-desekan, udah jadi makanan sehari-hari buat penumpaang setia KRL. Tapi di balik peristiwa desak-desakan itu, ternyata jadi kepikiran suatu hal.</p>
<p>Penumpang saling berdesakan karena mau dapet duduk duluan. Saking gak pengen berdirinya, mereka saling sikut dan tarik plus dorong. He..he..he.. rada kayak smack down dikit. Tapi, itulah perjuangan untuk mendapatkan kursi.</p>
<p>Ternyata, gak jelek kok kita rebutan kursi di KRL. Soalnya kalau kita udah duduk, terserah kita kan kursi mau terus didudukin atau dikasih sama orang lain yang emang butuh. akan jadi pahala manakala ketika kita dapet duduk, terus ada seorang wanita tua, ibu-ibu hamil, atau orang tua yang gak sanggup berdiri lama, kita kasih aja tempat duduk kita itu.</p>
<p>Jadi, rebutan buat dapet duduk di KRL ekonomi gak salah, asal niatnya aja kalau udah dapat kursi jangan sampai lupa untuk peduli dengan penumpang lainnya yang membutuhkan.</p>
<p>Coba kalau para pemimpin negeri ini bersikap seperti itu ya..</p>
<p>Gak apa-apa rebutan kursi kekuasaan, asalkan setelah dapet kursi, mereka inget dengan masyarakat yang sudah memilihnya. Bukannya asyik menikmati kekuasaan dan segala fasilitas negara yang didapetin dari pajak yang dibayar oleh rakyat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mentoringblog.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mentoringblog.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mentoringblog.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mentoringblog.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mentoringblog.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mentoringblog.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mentoringblog.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mentoringblog.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mentoringblog.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mentoringblog.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mentoringblog.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mentoringblog.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mentoringblog.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mentoringblog.wordpress.com/181/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mentoringblog.wordpress.com&amp;blog=4756392&amp;post=181&amp;subd=mentoringblog&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mentoringblog.wordpress.com/2009/02/06/antara-kursi-krl-dan-kursi-kekuasaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80561d6bbc92ce38f13c4bd23fd9e9b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mentoringblog</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
